Pulang ke rumah

Maret 24, 2007 at 4:51 am (Deary)

Kemarin ku mendapat kabar bahwa nenek yang kemarin , waktu pulang sakit kini sakitnya menjadi parah, Paman juga datang dari rembang mampir ketempatku kerja juga memberitahukan yang sama, kaku diajak bareng untuk menengok nenek, namun aku tak bisa karna tugasku mengharuskan stanby 24 jam di tempat kerjaku, mau tidak mau aku gak bisa ikut paman menjenguk nenek yang hanya menunggu ajal menjemputnya.

Kuberdoa supaya kudiberi kesempatan melihat nenekku yang terakhir kalinya .

Malamnya kutakbisa tidur memikirkan nenek yang gak bisa menemani di saat-saat terakhirnya, ku membayangkan gimana keadaanya disana pikiranku berkecammuk, gak tahu apa yang harus aku lakukan.

Hari jumat setelah solat jumat kupergi menemui nenek kurang lebih 2 jam sampai sudah ku dirumah dan langsung aja kumelihat nenek dalam pembaringannya, yang tanpa berdaya tertidur dalam kamarnya, tampak kaku dan hanya mulutnya yang bisa digerakkan, nenekku terserang penyakit strok sehingga semua badanya tak bisa digerakan, kutak bisa berkata apa-apa melihat apa yang dialami nenekku. Betapa menderitanya dia yang hanya bisa tergeletak di tempat tidunya sampai menunggu malaikat pencabut nyawa menghilangkan semua penderitaanya

semoga allah mengampuni segala dosa- dosanya dan menerima disisinya amin..

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

juwana sentra kuningan

Maret 21, 2007 at 4:41 am (kotaku)

SENTRA KERAJINAN KUNINGAN
( di Desa Kec. Juwana, Kab. Pati)

Kecamatan Juwana terletak ± 12 km arah timur pusat kota Pati, atau ± 80 km dari kota Semarang. Infrastruktur transportasi ke sana cukup baik, meskipun masih terdapat daerah-daerah rawan Mencetak Kuningankemacetan, misalkan di kabupaten Demak.

Produk yang dihasilkan sentra kerajinanan ini bermacam-macam, mulai dari barang untuk kebutuhan sehari-hari hingga cendera mata. Jika anda tertarik membeli hasil kerajinannnya, banyak terdapat galeri/workshop kerajinan di sepanjang jalan menuju desa sentra kerajinan. Galeri ini berfungsi untuk menampung hasil produksi pengrajin di sekitarnya, karena letak galeri pada umumnya sangat strategis.

Bagi konsumen atau wisatawan yang menginginkan hasil kerajinan, yang umumnya berbentuk cendera mata, semuanya tersedia di galeri-galeri tersebut dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga di galery Hotel atau Bandara.

Anda juga dapat langsung mengunjungi desa pengrajin, andaikata anda menginginkan spesifikasi produk menurut selera anda, mungkin ukuran atau desain produk yang anda jumpai di galeri-galeri disekitar sentra kurang memuaskan menurut anda. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan, anda bisa langsung memesan melalui galeri.



Tapi sekarang industri kerajinan kuningan di juwana sedang mati suri banyak sekali pengusaha besar dan home industri yang ada di juwana khususnya di desa growong , kudukeras dan bajomulyo banyak yang gulung tikar. mereka beralih menjadi pedagang rosok karena harga kuningan mahal dan barangnya langka

Permalink 1 Komentar

adipura dan kota pati

Maret 21, 2007 at 3:41 am (kotaku)

 

Peringatan!!! Dalam rangka Adipura semua warga Kota Pati wajib kerja bakti di lingkungannya setiap Hari Sabtu, jam 06.00 WIB. -Tim Adipura Kabupaten Patipkl di pati

PERINGATAN di atas terpampang di sudut-sudut Kota Pati akhir-akhir ini. Meskipun bagi sebagian besar masyarakat Pati peringatan itu tidak menjadi persoalan, akan tetapi sebenarnya peringatan itu menyimpan persoalan besar. Pertama, kalimat dalam peringatan itu seakan bisa diberi kalimat penerus: jika penilaian Adipura sudah selesai, tidak melakukan kerja bakti tidak masalah.

Artinya kita semua ternyata belum menjadikan kerja bakti (kerja bakti bersih-bersih lingkungan; pen) sebagai kultur, sebagai etos hidup, namun lebih pada usaha menutupi kebobrokan, ketidakbersihan yang selama ini menjadi kebiasaan kita. Kedua, tulisan “peringatan” dengan tiga tanda seru di belakangnya tentu menyimpan makna yang serius.

Bahkan kata itu bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang mengandung ancaman (awas jika ada yang tidak kerja bakti!), sekaligus menunjukkan kekhawatiran, kecemasan akan tidak dilaksanakannya kerja bakti itu sehingga masyarakat harus diperingatkan. Oleh karena itu kata yang digunakan adalah kata “peringatan” bukan “imbauan” atau kata-kata lain yang halus.

Adipura dan Pura-pura

Kasus semacam yang terungkap di atas sebenarnya bukan rahasia lagi. Ketika sebuah kabupaten/kota/provinsi berkehendak untuk mendapatkan penghargaan adipura, maka seluruh kegiatan yang bersifat menutupi keaslian kotanya dikerahkan.

Walhasil, dengan cara instan dan penuh rekayasa target kebersihan, ketertiban dan hal-hal lainnya yang akan dinilai oleh tim penilai adipura itu dibuat seakan-akan memang sungguh-sungguh terjadi di kota itu.

Intinya penulis ingin menyampaikan bahwa sebenarnya yang dinilai oleh tim penilai adipura adalah kepura-puraan, sesuatu yang direkayasa, semu, lipstik, sesuatu yang tidak terjadi dalam dunia keseharian kota yang dinilai itu.

Pilihan itu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota/propinsi oleh karena penghargaan adipura dianggap sebagai tolok ukur kebersihan dan ketertiban. Penghargaan adipura menjadi kiblat.

Jika kota itu mendapatkan piala adipura, berarti aparatur pemerintah dan masyarakatnya sudah sukses dalam menggalakkan kebersihan dan ketertiban di lingkungannya.

Menurut penulis, penghargaan adipura perlu dievaluasi sistem dan mekanismenya, kalau tidak boleh ditiadakan.

Hal tersebut sangat penting karena proses merekayasa yang dilakukan oleh kabupaten/kota/provinsi selalu berkonsekuensi pada tingginya biaya yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk melakukan proses rekayasa guna mendapatkan penghargaan adipura itu.

Adipura dan Kota Pati

Guna mendapatkan penghargaan adipura, pemerintah Kabupaten Pati seakan memaksimalkan semua kekuatan dan potensi yang dimilikinya.

Disamping memaksa warganya untuk melakukan kerja bakti di lingkungannya masing-masing, kegiatan-kegiatan yang bersifat pembangunan fisik juga dilaksanakan.

Salah satunya adalah pembangunan hutan kota yang terletak di jalan Pati-Kudus.

Istilah hutan kota yang digunakan oleh Pemkab itu bagi penulis sangat tidak tepat.

Pasalnya, disamping letaknya berada di luar kota setting penataan yang dilakukan oleh pemkab lebih mirip sebagai taman rekreasi daripada hutan kota.

Menilik dari fungsi, hutan kota sebenarnya berfungsi sebagai media penyangga kebersihan atmosfer kota atas polusi.

Oleh karena itu keberadaan hutan kota harus disesuaikan dengan tingkat pencemaran udara yang terjadi di kota itu. Sedangkan hutan kota yang dimiliki oleh Pemkab Pati jauh dari kebutuhan itu.

Disamping lokasinya yang sangat minim, posisi yang berada tepat di pinggir jalan pantura ini tetap membuat orang yang berkunjung tidak akan mendapatkan udara dan nuansa yang segar karena dibisingkan dan diplepeki oleh bunyi dan asap knalpot kendaraan yang lalu lalang di sana. Intinya, hutan kota milik Pemkab Pati itu lebih bernilai proyek daripada nila lingkungannya.

Penulis berfikir, Pemkab Pati seharusnya tidak perlu tergiur dengan bujuk rayu penghargaan adipura.

Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengejar penghargaan adipura lebih baik digunakan untuk hal-hal penting yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat; seperti gerakan penanggulangan wabah DBD, gerakan penanggulangan penyebaran virus HIV/AIDS, gerakan respons bencana kekeringan yang melanda sejumlah kecamatan dan persoalan pengangguran yang membeludak di Kabupaten Pati.

Pemerintah daerah akan lebih dihargai oleh masyarakat jika program-program itu bisa dijalan kan daripada mengejar penghargaan adipura yang penuh kepura-puraan dan lipstik.

Budaya menipu diri sendiri dan menipu orang banyak demi sebuah penghargaan harus segera dihentikan. (11)

— Husaini, staf di Yayasan SHEEP Indonesia, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK).

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cinta sejati

Maret 19, 2007 at 11:52 am (puisi)

Cinta sejati

Tangisku mendera

meredakan ombak dilema jiwa

tersimpan , tersirat

kenangan tentang dia

syair-syair yang tercipta karnanya

dan rasa yang mengusik ketenangan raga

Dia…………………..

mencoretkan warna – warna cinta

pada kanvas hatiku

Dia………………

melukiskan melodi rindu

dibuku harianku

Dia……….

menumbuhkan benih – benih cinta

disetiap hembusan nafasku

Dia juga membuat keajaiban

diantara jemariku

Mengajari tentang manis

dan pedihnya cinta

tentang gejolak yang ditimbulkanya

Dia………

cinta sejatiku

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

my buddy

Maret 19, 2007 at 5:45 am (puisi)

My buddy

indah kurajut benang sahabat bersamamu
merangkai benang kasih selama tiga tahun
selama kau disisiku…
aku nyaman
aku tenang
aku terlindungi

kau menjaga dalam gelap
kau memapahku dalam tak berdaya
setia menemaniku menangis
kau juga yang slalu memberi nasihat

tiga tahun
aku masih kurang
akankah usia menemani kita?

Terlalu manis kenangan manis bersamamu
takkan terlupa sampai senja
kita…
saat itu….
aku dan kamu…

Pulau dewata menemani
merangkai langkah bersama
menjaga dalam keterasingan

Sampai saat ini kita masih sahabat
tapi nanti
rahasia allah masih terpendam

jika Allah sudah berkehendak
aku menyetujui…
bukankah itu inginmu ?
karena aku
kenangan itu…
aku yakin kau menyimpan itu
dalam memori terindah hidup

My buddy, be my buddy but…

green love

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Merindumu

Maret 18, 2007 at 11:35 am (puisi)

Hembusan bayu, menyejukan jiwaku

Teriakan ombak menciptakan dilema

di peristirahatanku

Pasir putih, serayu tersenyum merayuku

Nafasku terbungkam .

Mataku mengarah kesatu tujuan

yaitu…..

Terhenti disenyumanmu

kucoba menangkis , menanggapi gundahku

membiarkanya pergi dan yang tergantikan

olehmu…….

Hatiku terbang tenang, sukmaku merajut kenangan silam

Baru kusadari,

Senyummu memang indah

Indah untuk dirasa

Seindah pula untuk dinikmati

Atau hanya tersirat dalam sukmaku

Dalam selang waktu aku menunggu, gundahku meranja

tangisku memilukan hati

Kerinduan yang mendalam, menimbulkan gejolak dalam dada

aku ingin kau cepat pulang…..

kembali kesisiku….

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Profil edwin107

Maret 17, 2007 at 12:02 pm (Uncategorized)

Edwin107 adalah seorang yang sekarang berdomilisi di Kota pati tepatnya lagi di kota kecamatan juwana , jalan Sunan Ngerang 109 Juwana , kota kecamatan yang dari pati kurang lebih 12 km di pinggiran jalur pantura

juwana walaupun sebagai kota kecamatan namun banyak potensi, seperti bandeng juwana , kerajina kuningan, dan hasil laut.sapa-h4yoo.jpg

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar